18 February 2016

Ruang Pilu




Bagai mengunjungi kota tua.
Lorong-lorongnya menyapaku dengan kesepian.
Aku dan langkahku bertegur hampa.

Bisu juga sunyi sangat menyatu di dinding-dindingnya.
Debu-debunya membisik lirih.
“Kemana kau selama ini?”

Berdiri lagi ku di ambang pintu ini.
Pintu bercat merah yang telah kusam.
Kenop pintunya sedingin es saat ku putar.

Di ruang itu gelap,
cahaya matahari tak dapat menggapainya.
Tapi tak perlu cahaya untuk merasakan pilu di ruang itu.

“Kau boleh masuk” katanya.
“Tapi gunakan alas kakimu,
aku belum membersihkan gelas yang kau pecahkan di muka pintu”

Mata itu gelap, binarnya telah hilang.
Hampir segelap kopi yang ia seruput kala itu, hitam juga pekat.
Sepertinya waktu telah melahapnya.

Di punggung wanita itu,
bertengger puisi paling sedih,
yang dibaca oleh sepi.

No comments:

Post a Comment

 
Powered by Aishi♥